Seketeng Kulon Bird Ndalem Notoprajan Bakal Gelar Lomba Burung Puter Terbesar 2019

gallery/1566743030-5d6284991d95e-budaya & pendidikan-lanang_fix

YOGYAKARTA - Lomba Seni Suara Alam Burung Puter Pelung akan kembali diselenggarakan Seketeng Kulon Bird nDalem Notoprajan, Minggu 27 Oktober 2019 mendatang, di Lapangan Kicau Mania Penny Jaya, Jalan Gedongkuning No.60 Yogyakarta.


Panitia penyelenggara, RM. Jefferson Lanang Haryo Prakosa mengatakan, Lomba Seni Suara Alam Burung Puter Pelung merupakan event tahunan. Namun menurutnya, untuk event Oktober 2019 ini adalah yang terbesar. Berkaca pada tahun lalu, kata dia, peserta sangat antusias dan datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Oleh karenanya, untuk tahun ini panitia menyediakan fasilitas yang lebih baik untuk para peserta dan pengunjung, seperti tempat parkir yang luas,

 

“Parkirnya luas, tempat tidak bising, karena di sana kami larang orang teriak,”  ujarnya kepada jogjakartanews.com, Rabu (21/08/2019).

 

Lanang menjelaskan, lomba terdiri dari empat kelas yaitu, kelasPemula dengan harga tiket Rp 50.000,-. Kelas Utama A dengan harga tiket Rp 125.000,-. Kelas utama B dengan harga tiket Rp 125.000,- dan kelas B.O.B dengan harga tiket Rp 100.000,-.

 

Menurutnya, para pemenang nantinya akan mendapatkan piagam, tropi dan dana pembinaan yang totalnya jutaan rupiah. Untuk para peserta juga disediakan konsumsi serta doorprize menarik.
Lanang Menegaskan, pihaknya benar-benar akan fair play dalam melakukan penjurian dan menentukan para pemenang,

 

“Kami penyelenggara dan panitia tidak ikut lomba maupun peserta lomba dan tidak melibatkan peserta dalam briefing juri,” tegasnya.

 

Sekadar informasi, untuk info event calon peserta bisa menghubungi nomor telepon 085786739515 atas nama Hendra dan untuk info pendaftaran bisa menghubungi nomor 081350904400 atas nama Fajar. (rd)


Redaktur: Ja’faruddin AS

gallery/1566743089-5d6284991d95e-budaya & pendidikan-faperta_ug

Bangkitkan Minat Generasi Muda Menjadi Petani, Gadjah Mada Agro Expo 2019 Bakal Digelar

YOGYAKARTA – Mahasiswa Departemen Budidaya Pertanian  dan Ikatan Mahasiswa Agronomi dan Pemuliaan Tanaman Faperta UGM akan menggelar Gadjah Mada Agro Expo (GMAE) pada 28-29 September 2019 mendatang di Pusat Jajanan Lembah UGM dan Jalan Olahraga UGM, Yogyakarta.

 

Ketua Pelaksana GMAE 2019,  Stanislaus Rere Noah mengatakan, GMAE digelar sebagai upaya membangkitkan minat generasi muda untuk menjadi petani.

 

Menurut Noah, pertanian merupakan jati diri bangsa Indonesia sebagai negara agraris. Sejak dulu, kata dia, petani merupakan profesi yang tetap eksis dan berkontribusi terhadap perekonomian Negara.

 

“Hingga tahun 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat serapan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor pertanian, yaitu 31,86 persen. Apabila melihat persentase tersebut, pertanian menjadi sektor besar yang menjadi kunci perekonomian. Hampir tidak diragukan lagi sektor pertanian sangat strategis untuk dikembangkan dan menjadi sektor unggulan Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (24/08/2019).

 

Namun demikian, Noah menilai  kenyataan tersebut tidak diimbangi dengan tingkat regenerasi petani. Berdasarkan Rencana Strategis 2015-2019 Kementrian Pertanian, tercatat dalam kurun waktu 2010 hingga 2014, petani dalam kelompok umur 15 sampai 29 tahun mengalami penurunan jumlah rata- rata sebesar 3,41%. Petani muda diproyeksikan terus menurun jumlahnya,

 

“Jika demikian, dalam beberapa tahun ke depan, petani sekarang akan menua sedangkan petani usia produktif berkurang sehingga Indonesia kekurangan petani,” ujarnya.

 

Ia menandaskan, minat generasi muda perlu dibangkitkan kembali. Tentu saja yang ditawarkan bukan menjadi petani konvensional yang membajak sawah dengan kerbau atau petani yang dibayangi dengan mahalnya harga pupuk. Kini pertanian hadir dengan teknologi modern beserta mekanisasi yang selaras dengan jiwa generasi muda yang selalu haus akan inovasi,

 

“Walaupun urgensi pertanian hadir dalam menyediakan pangan untuk masyarakat, toh pertanian masa kini juga merambah pada estetika, makanan fungsional, sumber energi terbarukan, dan bahan baku industri. Latar belakang itulah yang membawa mahasiswa Departemen Budidaya Pertanian Universitas Gadjah Mada  untuk menyelenggarakan Gadjah Mada Agro Expo,” ujarnya.

 

Noah  menjelaskan GMAE yang hadir setiap dua tahun sekali dikemas dalam bentuk pameran kreatif produk pertanian dari industri hulu hingga hilir. Pada tahun 2019 ini, GMAE bertepatan dengan puncak perayaan Dies Natalis Fakultas Pertanian ke-70. Tema yang diangkat begitu dekat dengan jati diri bangsa Indonesia, yaitu “Agriculture: The Art of Living”.

 

Menurutnya, acara akan diselenggarakan Kegiatan-kegiatan edukatif yang menarik turut memeriahkan GMAE 2019, di antaranya talkshow dengan tema Urban Millenium Sustainable Living, beberapa workshop, dan coaching clinic. Daya tarik bagi kaum muda adalah guest star pada konser musik.

 

Ia berharap selepas GMAE 2019 terselenggara persepsi masyarakat tentang pertanian lebih luas.

“Pertanian merupakan napas kehidupan berbalut seni yang akan selalu berkembang dan hidup seiring peradaban manusia, Pertanian menghembuskan napas industri ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat melalui agrosociopreneur sebagai penggerak Indonesia Maju 2045. "Gmae merupakan event dua tahunan yang dilaksanakan oleh Ikatan Mahasiswa Agronomi dan Pemuliaan Tanaman, event ini menjadi salah satu event yang ditunggu-tunggu bagi para penggiat di bidang pertanian,” bebernya.

 

Noah  menambahkan, berbeda dengan event sebelumnya, pada event keempat ini,  gmae mencoba membangkitkan minat masyarakat umum untuk terjun di bidang pertanian melalui hasil-hasil pertanian yang sudah diolah dan menjadi kebutuhan bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,&quot

Senada diungkapkan Rahmad Catur selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Agronomi dan Pemuliaan Tanaman Universitas Gadjah Mada,

 

“Melalui Gadjah Mada Agro Expo, kami Ikatan Mahasiswa Agronomi dan Pemuliaan Tanaman ingin mengenalkan dan mengingatkan betapa dekatnya pertanian dengan kehidupan sehari hari terutama bagi generasi millenial, agar tidak memandang sebelah mata sektor pertanian.",” tutupnya. (kt1)

 

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati